
Latar belakang pembuatan inovasi KOMPAK ALABIO diawali dari tingginya risiko penyebaran penyakit Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) pada peternakan unggas di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sebagai daerah sentra plasma nutfah Itik Alabio dengan karakteristik wilayah lahan basah, Kabupaten Hulu Sungai Utara memiliki pola pemeliharaan unggas yang berbeda dengan daerah lain sehingga membutuhkan strategi pengendalian penyakit yang spesifik. Selama periode tahun 2022–2026 tercatat sebanyak 107 kejadian HPAI dengan 71,03% kasus terjadi pada ternak itik, sehingga berdampak terhadap penurunan populasi unggas, meningkatnya kerugian ekonomi peternak, serta terganggunya lalu lintas perdagangan unggas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pengendalian penyakit karena sebagian besar peternakan rakyat masih menerapkan biosekuriti secara terbatas dan belum terdapat sistem pengendalian yang mampu diterapkan secara kolektif sesuai karakteristik wilayah lahan basah. Pendekatan pengendalian yang selama ini dilakukan masih berfokus pada penanganan kejadian penyakit, sehingga upaya pencegahan belum berjalan secara optimal. Selain itu, penetapan Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagai wilayah tertular HPAI menyebabkan pembatasan lalu lintas unggas secara legal dan berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit ke wilayah lain.
KOMPAK ALABIO hadir sebagai inovasi pelayanan publik melalui pembangunan Kompartemen Komunal Bebas Avian Influenza berbasis desa atau klaster desa dengan pendekatan biosekuriti kolaboratif. Inovasi ini mengintegrasikan pemetaan risiko, penerapan biosekuriti sesuai karakteristik wilayah, pengawasan lalu lintas unggas, serta kolaborasi lintas sektor sehingga pengendalian HPAI tidak lagi dilakukan secara parsial pada masing-masing peternakan, tetapi secara terpadu pada satu kawasan peternakan.
